Friday, October 19, 2018
Makhluk Paling Hina
Di sebuah pondok pesantren, terdapat seorang santri yang tengah menuntut ilmu pada seorang Kyai. Sudah bertahun-tahun lamanya si santri belajar .Hingga tibalah saat dimana dia akan diperbolehkan pulang untuk mengabdi kepada masyarakat
Sebelum kang Santri pulang, Kyai memberinya sbuah ujian padanya
Pak Kyai kemudian berkata pada Kang santri.
""Sebelum kamu pulang, dalam tiga hari ini, aku ingin meminta kamu mencarikan seorang ataupun makhluk yang lebih hina dan buruk dari kamu, “ujar sang Kyai.
“Tiga hari itu terlalu lama Kyai, hari ini aku bisa menemukan banyak orang atau makhluk yang lebih buruk daripada saya,”jawab Santri penuh percaya diri.
Sang Kyai tersenyum seraya mempersilakan muridnya membawa seorang ataupun makhluk itu kehadapannya.
Santri keluar dari ruangan Kyai dengan semangat, krn mnganggap begitu mudah ujian itu.
Hari itu juga, si Santri berjalan menyusuri jalanan,Di tengah jalan, dia menemukan seorang pemabuk berat. Menurut pemilik warung yang dijumpainya, orang tersebut selalu mabuk-mabukan setiap hari. Pikiran si Santri sedikit tenang, dalam hatinya dia berkata,
“pasti dia orang yang lebih buruk dariku, setiap hari dia habiskan hanya untuk mabuk-mabukan, sementara aku selalu rajin beribadah.”anabustami.blogspot.com
Dalam perjalanan pulang Si santri kembali berpikir,
" kayaknya si pemabuk itu belum tentu lebih buruk dari aku , sekarang dia mabuk-mabukan tapi siapa yang tahu di akhir hayatnya Allah justru mendatangkan hidayah hingga dia bisa khusnul Khotimah, sedangkan aku yang sekarang rajin ibadah, kalau diakhir hayatku, Allah justru menghendaki Suúl Khotimah, bagaimana? “berarti pemabuk itu belum tentu lebih jelek dari aku,”ujarnya bimbang.
Kang Santri kemudian kembali melanjutkan perjalanannya mencari orang atau makhluk yang lebih buruk darinya. Di tengah perjalanan, dia menemukan seekor anjing yang menjijikkan karena selain bulunya kusut dan bau, anjing tersebut juga menderita kudisan.
“Akhirnya ketemu juga makhluk yang lebih jelek dari aku, anjing tidak hanya haram, tapi juga kudisan dan menjijikkan, ”teriak santri dengan girang.
Dengan menggunakan karung beras, si Santri membungkus anjing tersebut hendak dibawa ke Pesantren, Namun ditengah jalan , tiba-tiba dia kembali berpikir
“anjing ini memang buruk rupa dan kudisan, namun benarkah dia lebih buruk dari aku?” Oh tidak, kalau anjing ini meninggal, maka dia tidak akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dilakukannya di dunia, sedangkan aku harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan selama di dunia dan bisa jadi aku akan masuk ke neraka.
Akhirnya si santri menyadari bahwa dirinya belum tentu lebih baik dari anjing tersebut.
Hari semakin sore , Kang Santri msih mencoba kembali mencari orang atau makluk yang lebih jelek darinya. Namun hingga malam tiba, dia tak jua menemukannya. Lama sekali dia berpikir, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Pesantren dan menemui sang Kyai.
“Bagaimana Anakku, apakah kamu sudah menemukannya?”tanya sang Kyai.
“Sudah, Kyai,”jawabnya seraya tertunduk. “Ternyata diantara orang atau makluk yang menurut saya sangat buruk, saya tetap paling buruk dari mereka,”ujarnya perlahan.
Mendengar jawaban sang Murid, kyai tersenyum lega,
”alhamdulillah.. kamu dinyatakan lulus dari pondok pesantren ini, anakku,”ujar Kyai terharu.
Kemudian Kyai berkata "Selama kita hidup di Dunia, jangan pernah bersikap sombong dan merasa lebih baik atau mulia dari orang ataupun makhluk lain. Kita tidak pernah tahu, bagaimana akhir hidup yang akan kita jalani. Bisa jadi sekarang kita baik dan mulia, tapi diakhir hayat justru menjadi makhluk yang seburuk-buruknya. Bisa jadi pula sekarang kita beriman, tapi di akhir hayat, setan berhasil memalingkan wajah kita hingga melupakan_Nya
Rasulullah SAW bersabda:
Tidak akan masuk kedalam surga orang yang di hatinya ada kesombongan meskipun sebesar biji sawi (HR.Muslim no 91 )
Semoga sedikit ilmu yang di titipkan Allah Subhana Ta'alla dihati kita tidak menjadikan kita sombong dalam segala urusan.bustamizi.blogspot.com
Dan semoga di sisa umur yang Allah berikan dapat kita pergunakan sebaik-baiknya untuk memperbanyak Amal shale dan bukan hanya di sibukan dgn urusan duniawi belaka dan semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.....
Aamiin Ya Rabbal Alamiin . . .
Sunday, September 9, 2018
Beberapa Amalan Dalam Mengakhiri Dan Menyambut Tahun Baru Hijriah
*Besok hari Senin merupakan akhir bulan Dzul Hijjah (akhir tahun 1439 H), jangan lupa membaca "Doa Akhir Tahun" seusai shalat Ashar. Kemudian ba'da maghribnya (malam selasa adalah malam 1 Muharram (tahun baru Islam 1440 H), jangan lupa membaca "Doa Awal Tahun"*.
Cara mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menggunakan nikmat tersebut pada tempat tujuan penciptaannya. Untuk mensyukuri nikmat umur yang Allah berikan maka kita harus menggunakan umur tersebut untuk beribadah kepada Allah. Maka di akhir tahun dan di awal tahun baru sangatlah dianjurkan untuk memperbanyak doa dan amalan sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Berikut ini beberapa amalan yang kami kutip dari kitab para ulama yang dapat diamalkan dalam mengakhiri tahun ini dan menyambut tahun baru, semoga Allah mengampunkan dosa kita dalam tahun yang telah lalu dan Allah memberikan tahun kedepan sebagai tahun yang penuh rahmat dan jauh dari tipu daya syaithan, sehingga kita sempat menjalaninya dengan beribadah kepada Allah dengan niat yang ikhlas.
Amiin Ya Rabbal Alamiin.
Doa Akhir tahunDoa ini di baca sebanyak tiga kali
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
(اَللّهُمَّ) مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ، وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ، وَحَلِمْتَ عَلَيَّ مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِي؛ وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْأَتِي عَلَى مَعْصِيَّتِكَ فإِنِّي أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِي
(اَللّهُمَّ) وَمَا عَمِلْتُ مِنْ مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اَللّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَا ذَالْجَلاَلِ والإِكْراَم أَنْ َتَتَقَبَّلَهُ مِنِّي، وَلَا تَقْطَعَ رَجَائِي مِنْكَ يَا كَرِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ؛ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Amalan Awal tahun
1. Puasa
Salah satu amalan yang dapat dilaksanakan pada awal hari pertama bulan Muharram adalah puasa.
Al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani meriwayatkan :
من صام آخر يوم من ذي الحجة وأوّل يوم من المحرّم جعله الله تعالى له كفارة خمسين سنة، وصوم يوم من المحرم بصوم ثلاثين يومًا
Barang siapa berpuasa pada akhir dari bulan Zulhijjah dan awal dari bulan Muharram akan Allah jadikan baginya keampunan lima tahun dan puasa sehari di bulan Muharram bagaikan puasa 30 hari. anabustami.blogspot.com
Bulan Muharram adalah bulan yang sangat di anjurkan untuk berpuasa terlebih lagi di sepuluh awal bulan Muharram, terutama pada hari Tasu`a (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram). Bahkan bulan Muharram adalah bulan yang lebih utama untuk berpuasa setelah bulan Ramadhan.
2. Doa-doa di awal tahun
Banyak doa yang warid dari Rasulullah dan yang di amalankan oleh para ulama pada awal tahun, antara lain:
Membaca ayat kursi sebanyak 360 kali disertai dengan basmalah pada setiap kali bacaan, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa di bawah ini:
اللّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ الأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِيْ إِلَى أَحْسَنِ الأَحْوَالِ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَال، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم
Imam Sayyid Zaini Dahlan mengatakan bahwa beliau selalu mengamalkan amalan tersebut setiap awal tahun dan sangat berfaedah sebagai benteng dari syaithan. Guru beliau Syeikh Usman ad-Dimyathy juga selalu mengamalkan amalan tersebut.
Syeikh Hasan al-`idawy al-Hamzawy mengatakan bahwa faedah amalan tersebut adalah memelihara pengamalnya dalam setahun tersebut dari hal-hal yang ia benci.
Membaca doa di bawah ini sebanyak tiga kali :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (اَللّهُمَّ) صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْرًا، وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرَحًا وَسُرُوْرًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. (اَللّهُمَّ) أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ، وَعَلَى فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ وَكَرِيْمُ جُوْدِكَ الْعَمِيْمُ الْمُعَوَّلُ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَاْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِي إلَيْكَ زُلْفَى، يَا ذَا الْجَلَالِ وَاْلإكْرَامِ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Doa ini berfaedah memelihara manusia dari gangguan syaithan pada tahun tersebut.
Doa Nabi Khidir as. bustamizi.blogspot.com
Disebutkan dalam satu riwayat bahwa Imam Ghazali menceritakan : saya berada di Makkah pada awal hari tahun baru Hijriyah, saya melakukan thawaf Baitil Haram. Kemudian tergores dalam hati saya supaya bisa melihat Nabi Khidir as pada hari tersebut, kemudian Allah mengilhami saya untuk berdoa, maka saya berdoa supaya Allah menghimpunkan saya dengan Nabi Khidir pada hari tersebut. Belum selesai saya berdoa tampaklah bagiku Nabi Khidir di tempat Thawaf, sayapun berthawaf bersama beliau dan mengerjakan apa yang beliau kerjakan, dan mengikuti bacaannya sehingga selesai thawaf, kemudian saya duduk sambil melihat rumah yang mulia (ka`bah) kemudian beliau berpaling kepada saya dan berkata “hai Muhammad, apa yang membuatmu meminta kepada Allah untuk menghimpunkan saya dengan dirimu pada hari ini di tanah haram yang mulia ini”? Saya menjawab “Ya Sayyidi, hari ini adalah tahun baru, saya mencintai mengikuti engkau dalam menghadapi tahun baru dengan ibadat dan tadharu’mu”. Nabi Khidir menjawab “ya”. Kemudian beliau berkata “rukuklah dengan rukuk yang sempurna”. Maka saya segera berdiri dan shalat sebagaiman beliau perintahkan, ketika selesai dari shalat beliau berkata “berdoalah dengan doa ma’tsur ini yang menghimpunkan bagi kebaikan dan barakah”. Doa tersebut adalah :
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. (اَللّهُمَّ) إنِّي أسْأَلُكَ بِكَ أَنْ تُصَلِّيَ وَتُسَلِّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى سَائِرِ الْأنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِمْ وَصَحْبِهِمْ أجْمَعِيْنَ، وَأنْ تَغْفِرَ لِي مَا مَضَى وَتَحْفِظَنِي فِيْمَا بَقِيَ يَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. (اَللّهُمَّ) هَذِهِ سَنَةٌ جَدِيْدَةٌ مُقْبِلَةٌ لَمْ أعْمَلُ فِي ابْتِدَائِهَا عَمَلاً يُقَرِّبُنِي إلَيْكَ زُلْفَى غَيْرَ تَضَرُّعِي إلَيْكَ؛ فَأسْألُكَ أنْ تُوَفِّقَنِي لِمَا يُرْضِيْكَ عَنِّي مِنَ الْقِيَامِ بِمَا لَكَ عَلَيَّ مِنْ طَاعَتِكَ، وَألْزَمْتَنِيَ الْإخْلَاصَ فِيْهِ لِوَجْهِكَ اْلكَرِيْمِ فِي عِبَادَتِكَ، وَأسْألُكَ إتْمَامَ ذَلِكَ عَلَيَّ بِفَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ (اَللّهُمَّ) إنِّي أسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ السَّنَةِ الْمُقْبِلَةِ؛ يُمْنَهَا وَيُسْرَهَا، وَأَمْنَهَا وَسَلَامَتَهَا، وَأعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهَا وَصُدُوْدِهَا، وَعُسْرِهَا وَخَوْفِهَا وَهَلَكَتِهَا، وَأرْغَبُ إلَيْكَ أنْ تَحْفِظَ عَلَيَّ فِيْهَا دِيْنِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أمْرِي وَدُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي، وَتُوَفِّقَنِي فِيْهَا إلَى مَا يُرْضِيْكَ عَنِّي فِي مِعَادِي، يَا أكْرَمَ اْلأكْرَمِيْنَ، وَيَا أرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ (دَعْوَاهُمْ فِيْهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيْهَا سَلَامٌ، وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ)
Salah satu doa yang berfaedah memelihara diri dari syaithan dalan setahun adalah doa bawah ini, dibaca setiap hari dari hari pertama Muharram hingga sepuluh Muharram sebanyak tiga kali:
اَللّهُمَّ إنَّكَ قَدِيْمٌ وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أقْبَلَ، وَسَنَةٌ جَدِيْدَةٌ قَدْ أقْبَلَتْ، نَسْألُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَنَسْتَكْفِيْكَ فَوَاتَهَا وَشُغْلَهَا، فَارْزُقْنَا الْعِصْمَةَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، اَللّهُمَّ إنَّكَ سَلَّطْتَ عَلَيْنَا عَدُوًّا بَصِيْرًا بِعُيُوْبِنَا، وَمُطَّلِعًا عَلَى عَوْرَاتِنَا، مِنْ بَيْنِ أيْدِيْنَا وَمِنْ خَلْفِنَا، وَعَنْ أيْمَانِنَا وَعَنْ شَمَائِلِنَا، يَرَانَا هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا نَرَاهُمْ، اَللّهُمَّ آيِسْهُ مِنَّا كَمَا آيَسْتَهُ مِنْ رَحْمَتِكَ، وَقَنِّطْهُ مِنَّا كَمَا قَنَّطْتَهُ مِنْ عَفْوِكَ، وَبَاعِدْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ كَمَا حُلْتَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَغْفِرَتِكَ، إنَّكَ قَادِرٌ عَلَى ذَلِكَ، وَأنْتَ الْفَعَّالُ لِمَا تُرِيْدُ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Referensi:
Syeikh Abdul Hamid Qudus, Kanz Najah wa al-Surur fi Ad`iyyah allati Tusyrih al-Shudur.
Lbm.mudimesra.com
Saturday, June 2, 2018
Ketika Baju Yang Rasulullah Berikan Untuk Pengemis Kembali Lagi
Suatu hari ada seorg pengemis mengetuk pintu rumah Rasulullah saw. Pengemis itu berkata : "Saya pengemis ingin meminta sedekah dr Rasulullah." Rasulullah bersabda : "Wahai Aisyah berikan BAJU itu kpd pengemis itu". Sayyidah Aisyah pun akhirnya melaksanakan perintah Nabi SAW. Dgn hati yg sgt gembira, pengemis itu menerima pemberian beliau & langsung pergi ke PASAR serta berseru di keramaian org di pasar :
"Siapa yg mau membeli baju Rasulullah? "Maka dgn cepat berkumpullah org2 & semua ingin membelinya. anabustami.blogspot.com
Ada seorg yg buta mendengar seruan tsbt, lalu menyuruh budaknya agar membelinya dgn harga berapa pun yg di minta & ia berkata kpd budaknya : Jika kamu berhasil mendptkannya, maka kamu MERDEKA.
Akhirnya budak itu pun berhasil mendptkannya. Kemudian di serahkan baju itu pd tuannya yg buta tadi. Alangkah gembiranya si buta tsbt,
dgn memegang baju Rasulullah SAW yg dia dpt. Org buta tsbt kemudian berdoa & berkata :
"Yaa Rabb dgn hak Rasulullah & berkat baju yg suci ini maka KEMBALIKANLAH PENGLIHATAN KU".
MaaSyaa Allah...
dgn izin Allah spontan si buta tsbt dpt melihat kembali. Keesokan harinya, ia pun pergi menghadap Rasulullah SAW dgn penuh gembira & berkata :
Wahai Rasulullah... pandangan ku sudah kembali & aku kembalikan baju anda sbg hadiah dr ku". Sblmnya org itu menceritakan kejadiannya sehingga Rasulullah SAW pun tertawa hingga tampak gigi gerahamnya. newstribunakurat.com
Kemudian Rasulullah bersabda kpd Sayyidah Aisyah :
"Perhatikanlah baju itu wahai Aisyah, dgn berkah-Nya BERSEDEQAH tlh mengkayakan org yg miskin, menyembuhkan yg buta, memerdekakan budak & kembali lagi kpd kita".
Subhanallah...
Al-Imam as-Suyuti menyebutkan dlm salah satu kitabnya bahwa pahala SHADAQAH itu ada 5 macam :
أَنَّ ثَوَابَ الصَّدَقَةِ خَمْسَةُ أَنْوَاعٍ : وَاحِدَةٌ بِعَشْرَةٍ وَهِيَ عَلَى صَحِيْحِ الْجِسْمِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِيْنَ وَهِيَ عَلَى الْأَعْمَى وَالْمُبْتَلَى ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةٍ وَهِيَ عَلَى ذِي قَرَابَةٍ مُحْتَاجٍ ، وَوَاحِدَةٌ بِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى الْأَبَوَيْنِ ، وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةِ أَلْفٍ وَهِيَ عَلَى عَالِمٍ أَوْ فَقِيْهٍ اهـ
(كتاب بغية المسترشدين)
"Sesungguhnya pahala bersedekah itu ada lima (5) kategori :
1. Satu di balas sepuluh (1 : 10) iaitu bersedekah kpd org yg sihat jasmani.
2. Satu di balas sembilan puluh (1 : 90) iaitu bersedekah terhadap org buta, org cacat @ tertimpa musibah, tmsk anak yatim & piatu.
3. Satu di balas sembilan ratus (1 : 900) iaitu bersedekah kpd kerabat kaum keluarga serta saudara.
4. Satu di balas seratus ribu (1 : 100,000) iaitu sedekah kpd kedua org tua.
5. Satu di balas sembilan ratus ribu (1 : 900,000) iaitu bersedekah kpd org yg alim @ ahli fiqh/fekah.
[Kitab Bughyatul Musytarsyidin]
Semoga Allah SWT memudahkan kita utk bermurah hati, suka bersedekah dgn ikhlas. Aamiin...
Habib Ali Zainal Abidin.
Kisah Anak Durhaka Yang diBayar Secara Tunai Oleh Allah
Kisah Nyata :
ALLAH BAYAR SECARA TUNAI
Dikisahkan oleh seorang ustadz dinegeri Jiran (kisah nyata)
Satu hari saya pergi ke satu Rumah Panti Jompo,
Seorang sahabat meminta bantuan,
Agar saya dapat menyalurkan bantuan kepada orang miskin,
Saya belikan kain sarung,
Beli roti,
Dll,
Saya pun pergi ke Panti Jompo yang saya kenal,
Tak usah saya sebut namanya,
Saat sampai kendaraan kami di perkarangan Panti Jompo tsb,
Tiba-tiba ada seorang ibu tua berlari dari asrama (panti) mendekati saya,
.
"Ye...
Ye...
Anak aku datang,
Anak aku datang,
Senangnya anak aku datang..."
Saya tak mengenal beliau siapa,
Ibu itu memeluk saya,
Dia cium saya,
0rang tua itu berkata...
"Nak...
Kenapa tinggalkan ibu disini nak,
Ibu mau pulang...
Ibu rindu rumah kita..."
Saya waktu itu...
Hampir tak bisa berkata-kata,
Ya Allah...
Saya coba mengucapkan kata...
"Bu..."
Saya pegang tanganya,
Saya lihat mukanya,
Dia bilang...
"Sampai hati nak,
Kau tak mengaku aku ini ibu kau..."
anabustami.blogspot.com
Bisa saya bayangkan,
Bagaimana perasan beliau begitu rindu pada anak nya,
Saya coba berpura-pura,
Seolah-olah saya anaknya, saya berkata...
"Bu...
Maafkan saya ya..."
Saya pegang tangannya, saya ajak duduk atas kursi,
Saya ambil roti, dl
Dan saya suapkan ke mulutnya,
Tak terasa menetes air mata dipipi,
Mencoba bayangkan,
Hati seorang ibu yang rindu kepada anaknya,
Bila kita anaknya,
Mengambilkan sepotong roti,
Kita suapkan kemulutnya,
Bagaimana perasaan beliau ?
Bagaimana perasan kita ?
newstribunakurat.blogspot.com
Saya coba usap air matanya yang meleleh dipipi,
Dia pegang tangan saya,
Subhana Allah...
Saya bisa merasakan bagaimana perasaan beliau yang begitu rindu kepada anaknya,
Saat saya hendak pulang,
Dia pegang kaki saya sambil berkata...
"Nak...
Jangan tinggalkan ibu nak,
Ibu mau balik,
Ibu mau pulang..."
Akhirnya saya minta izin dengan pihak pengawas panti di situ,
Melihat data beliau ternyata anaknya ada 5 orang,
Yang paling besar bergelar Tan Sri,
0rangnya memang kaya,
Punya nama besar,
Dan hebat orangnya,
Waktu saya izin pulang,
Dia pegang baju saya,
Dia bilang mau ikut saya pulang,
Saya bilang
"Di mobil ada banyak barang",
"Tak apa kata ibu itu,
Saya duduk sama barang-barang,
Itu"...
Akhirnya saya izin ke pengelola panti untuk membawa ibu itu selama 5 hari saja,
Pulang ke rumah saya,
Sholat Subuh saya jadi Imam dia makmum di belakang,
Saya baca doa, sl
Saya tengok air mata beliau jatuh,
Selesai doa saya salami beliau,
Saya cium tangannya,
Saya bilang...
"Bu...Maafkan saya ya..."
Waktu itu,
Saya tak membayangkan,
Kalau ibu saya sudah meninggal,
Tapi saya bayangkan ibu ini adalah ibu saya,
Sebab dia rindu pada anak-anaknya,
Di hari ketiga di rumah saya,
Waktu Sholat Isya',
Selesai doa saya salami beliau,
Dia lapisi tangannya dengan kain mukena-nya,
Dia salam,
Saya bilang...
"Bu...
Kenapa ibu lapisi tangan ibu ?,
2 hari yang lalu ibu salam,
Ibu tak lapisi tangan ibu dengan saya,
Kenapa hari ini ibu lapisi tangan ?"
Dia bilang...
"Ustaz...
Kau bukan anak saya kan..."
Subhanaallah...
Tiba-tiba dia sebut nama saya "Ustaz",
Saya bilang...
"Kenapa ibu panggil saya ustaz ?
Saya anak ibu..."
Dia berkata...
"Bukan...
Kalau anak saya dia tak akan seperti ini,
Kalau anak saya dia tak akan jadi imam saya,
Kalau anak saya dia tak akan suap saya makan..."
Bayangkan sahabat-sahabat bagaimana perasaan ibu ini,
Spontan saya pegang dia,
Saya peluk dia,
Saya menangis,
Saya bilang...
"Bu...
Walaupun bukan ibu saya,
Tapi saya sayang ibu seperti ibu saya..."
Saya pegang tangan ibu ini...
Walaupun bukan ibu saya,
Tapi saya tahu hatinya sangat rindu dekat dengan anaknya,
Waktu itu saya pandang wajahnya,
Saya bilang...
"Bu...
Walaupun ibu saya telah tiada,
Tapi ibu boleh ganti menjadi ibu saya,
Ibu duduklah di sini..."
Saat makan,
Saya suapkan nasi ke mulutnya,
Dia muntahkan balik makan dari mulutnya,
Saya tanya...
"Kenapa bu ?"
Tiba-tiba saya lihat wajahnya pucat,
Saya angkat dia,
Panggil ambulan antar ke rumah sakit,
Waktu di RS,
Saya ambil kepalanya dan saya rebahkan ibu ini,
Dia pegang tangan saya dia berkata...
"Ustaz...
Kalau saya mati,
Tolong jangan beritahu sorang pun anak saya,
Kalau saya sudah mati,
Jangan beritahu mereka di mana makam saya,
Kalau mereka tahu di mana kubur saya,
Jangan izinkan dia pegang batu nisan saya..."
Saya pegang beliau saya berkata...
"Bu...
Jangan ngomong seperti itu,
Bu..."
Isteri saya menangis di sebelah,
Anak saya menangis di sebelah memegang dia,
Kami pegang dia...
"Bu...
Jangan ngomong seperti itu,
Bu..."
Dia geleng kepala,
Rupa-rupanya itulah saat penghujung hayatnya,
Akhirnya dia pun meninggal di atas ribaan saya di rumah sakit itu,
Dia meninggal dalam pelukan saya,
Saya doakan Ibu Hajjah Khalijah ini ruhnya mudah-mudahan bersama Salafusoleh,
Sahabat,
Bila kita masih ada ibu,
Tolonglah taat pada ibu kita,
Jangan durhaka pada ibu kita,
Jangan tinggalkan dia di Panti Jompo,
Saat ibu kita sakit kita jaga dia,
Pijat-pijat kepala dan kaki ibu kita...
Sahabat-sahabat coba tanya ibu kita...
"Bagaimana penderitaan ibu saat mengandung saya dulu ?
Bagaimana sakitnya ibu saat melahirkan saya dulu ?"
Tanya ibu kita sahabat-sahabat sekalian...
Kalau kita tanya sudah tentu air mata ibu kita akan jatuh,
Karena itu sahabat-sahabat suapkanlah makanan pada ibu kita...
Sahabat-sahabat semua...
Selepas wafatnya ibu ini, ternyata berita kematiannya sampai juga kepada anaknya yang sulung,
Anak dia terus telefon saya...
Apa anaknya bilang pada saya...
"Saya akan bawa anda ke pengadilan,
Saya akan tuntut anda telah membawa keluar ibu saya dari dari Panti Jompo"...
3 tahun dia titipkan ibunya di Panti,
Dia tak pergi lihat,
Sebab itu ibunya rindu,
Hingga ibu itu tak bisa membedakan saya dengan anaknya...
Akhirnya saya tunggu,
Tunggu punya tunggu tidak ada kabar hampir setahun lebih,
Saya pergi ceramah di Masjid di daerah pecinaan,
Selesai saya ceramah datang seorang lelaki memeluk saya,
Menangis dalam masjid,
0rang dalam masjid heran,
Ada apa ini,
Saya tanya pada dia...
"Pak,
Ada apa ini ?
Ada masalah apa...?"
Dia berkata dalam keadaan menangis...
"Ustaz...
Tolong kasih tahu di mana makam ibu saya ustaz ?
Tolong kasih tahu di mana kubur ibu saya ?"...
Saya bilang...
"Kenapa hari ini baru tanya kubur ibu kamu ?"...
Dia bilang...
"Tolonglah ustaz...
Saya mau jumpa ibu saya ustaz,
Sayalah orang yang bergelar Tan Sri yang mau menuntut ustaz saat itu...
Saya sekarang ini sudah bangkrut ustaz,
Isteri saya mati kecelakaan,
Rumah disita bank,
Mobil mewah saya semua dah disita bank,
Tinggal 1 saja,
Motor tua itu..."
Saya berkata...
"Saya bisa tunjukkan makam ibu kamu,
Tapi dengan 1 syarat,
Kamu jangan pegang batu nisan ibu kamu..."
Sampai di pemakaman,
Tak sempat saya turun dari mobil,
Dia turun duluan,
Saya lihat didepan mata saya sendiri dia jatuh tersungkur tangan nya menjadi hitam,
Mulutnya tertarik sebelah yang tadi awalnya tangan dan mulutnya baik-baik saja,
Sambil memanggil-manggil...
"Ibu...
Ibuuu...
Ibuuuuu..."
Tiba-tiba saya angkat dia tak jauh dari makam ibunya belum sampai ke kubur ibunya,
Dia sudah hembuskan nafas terakhir disamping makam ibunya...
Allahu Akbarrr...
Mengucap panjang saya...
Allah SWT tunjukkan kepada saya,
Dikehidupan ini balasan anak yang durhaka pada ibu dan ayahnya,
Semoga kisah ini menjadi pelajaran di luar sana,
Ambillah iktiar dari kisah di atas,.
"Dan apabila mata ibumu sudah tertutup,
Maka hilanglah satu keberkatan disisi Allah SWT.
Yaitu *Doa* seorang Ibu.
Bagikan bila bermanfaat . . .
Monday, May 21, 2018
Cara Rasulullah Memuliakan Sahabatnya
Semakin tinggi derajat seseorang, semakin pula ia dihormati. Tapi Rasulullah punya nilai lebih. Sebagai manusia yang maksum dan pembawa risalah suci, sudah sepantasnya Baginda Nabi Muhamad shallallâhu ‘alaihi wasallam mendapat pemuliaan yang tinggi dari sahabat-sahabatnya. Namun nyatanya, justru Rasulullah-lah yang terdepan meneladankan sikap itu kepada mereka. Beliau yang enggan dihormati tampil sebagai sosok sangat menghormati orang lain. anabustami.blogspot.com
Tentang hal ini ada sebuah kisah yang diriwayatkan Imam ath-Thabrani. Suatu kali Rasulullah menggelar sebuah pertemuan dengan para sahabatnya. Yang hadir cukup ramai, sehingga majelis itu terlihat sesak.
Di tengah padatnya peserta forum, Jarir bin Abdullah datang terlambat. Tentu ia tak mendapat jatah tempat duduk. Rasulullah yang mengetahui kondisi Jarir segera menggelar jubahnya lalu menyuruh Jabir duduk di atasnya.
Hati Jarir terenyuh menyaksikan akhlak luar biasa Rasulullah. Alih-laih mau duduk di atas pakaian Nabi, ia malah mengambil pakaian tersebut, mengangkatnya, lalu menciumnya sambil menangis tersedu-sedu. Batin Jarir, bisa-bisanya Rasulullah begitu menghormati dirinya di depan para sahabat yang lain padahal dia telat?
“Saya tak akan duduk di atas pakaianmu (ya Rasulullah). Semoga Allah memuliakanmu sebagaimana engkau memuliakan diriku,” kata Jarir yang haru campur kagum dengan sifat Rasulullah. newstribunakurat.blogspot.com
Rasulullah adalah sosok yang tak gandrung dengan penghormatan. Beliau lebih sering melayani ketimbang dilayani. Nabi menjahit pakaiannya sendiri yang bolong. Menyelesaikan keperluannya tanpa merepotkan orang lain. Pribadinya yang tawaduk juga enggan bila tangannya dicium, meski bukan berarti mengharamkannya. Demikianlah Rasulullah, puncak kemuliaannya tampil sempurna justru dalam kerendahhatiannya . (Mahbib)
Sunday, April 8, 2018
Kekhawatiran Abdurrahman bin Auf Akan Wafatnya Rasulullah
Satu ketika sahabat Abdurrahman bin Auf mendapati Rasulullah berjalan sendirian. Dari jarak yang tak jauh ia mengikuti beliau hingga kemudian memasuki sebuah kebun kurma.
Ketika Rasul berada di tengah kebun itu tiba-tiba beliau bersujud, entah mengapa. Sementara Abdurrahman bin Auf terus memperhatikannya. Ia sempat menunggu beberapa lama berharap Rasulullah segera menyudahi sujudnya. Namun harapannya tak segera terwujud. Rasulullah begitu lama dalam sujudnya.
Air mata Abdurrahman mulai meleleh. Ia menangis. Ada kekhawatiran dalam dirinya pada diri kekasihnya. “Adakah Rasulullah meninggal dunia dalam sujudnya itu? Adakah aku tak akan pernah lagi melihatnya untuk selamanya?” dalam takutnya ia mengira.
Syukurlah, apa yang dikhawatirkannya tak benar. Dilihatnya Rasulullah bangkit dari sujudnya dengan wajah berseri-seri. Abdurrahman bin Auf segera mendekati beliau.
“Ada apa denganmu wahai Abdurrahman?” tanya Rasulullah yang melihat sahabatnya berlinang air mata.
Maka Abdurrahman pun menceritakan ihwalnya. Mulai dari awal mengikuti perjalanan beliau sampai adanya kekhawatiran kalau-kalau beliau telah dicabut ruhnya oleh Allah subhânahu wa ta’âlâ .
Atas kekhawatiran sahabatnya itu maka Rasulullah menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. “Barusan malaikat Jibril mendatangiku,” ujarnya. “Kepadaku ia mengatakan, aku sampaikan kepadamu kabar gembira bahwa Allah menyatakan, ‘Barangsiapa yang bershalawat kepadamu maka Aku bershalawat kepadanya. Dan barangsiapa yang bersalam kepadamu maka aku bersalam kepadanya.’ Karena kabar dari Jibril itulah maka aku bersujud sebagai rasa syukurku kepada Allah.”
Kisah di atas banyak direkam oleh para ulama hadits di dalam kitab-kitab mereka. Di antaranya oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya:
ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑْﻦِ ﻋَﻮْﻑٍ، ﻗَﺎﻝَ : ﺧَﺮَﺝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻓَﺘَﻮَﺟَّﻪَ ﻧَﺤْﻮَ ﺻَﺪَﻗَﺘِﻪِ ﻓَﺪَﺧَﻞَ، ﻓَﺎﺳْﺘَﻘْﺒَﻞَ ﺍﻟْﻘِﺒْﻠَﺔَ ﻓَﺨَﺮَّ ﺳَﺎﺟِﺪًﺍ، ﻓَﺄَﻃَﺎﻝَ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩَ ﺣَﺘَّﻰ ﻇَﻨَﻨْﺖُ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻗَﺒَﺾَ ﻧَﻔْﺴَﻪُ ﻓِﻴﻬَﺎ، ﻓَﺪَﻧَﻮْﺕُ ﻣِﻨْﻪُ، ﺛُﻢَّ ﺟَﻠَﺴْﺖُ ﻓَﺮَﻓَﻊَ ﺭَﺃْﺳَﻪُ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : « ﻣَﻦْ ﻫَﺬَﺍ؟ » ﻗُﻠْﺖُ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ، ﻗَﺎﻝَ : « ﻣَﺎ ﺷَﺄْﻧُﻚَ؟ » ﻗُﻠْﺖُ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺳَﺠَﺪْﺕَ ﺳَﺠْﺪَﺓً ﺧَﺸِﻴﺖُ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻗَﺪْ ﻗَﺒَﺾَ ﻧَﻔْﺴَﻚَ ﻓِﻴﻬَﺎ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : " ﺇِﻥَّ ﺟِﺒْﺮِﻳﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻼﻡُ، ﺃَﺗَﺎﻧِﻲ ﻓَﺒَﺸَّﺮَﻧِﻲ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻳَﻘُﻮﻝُ : ﻣَﻦْ ﺻَﻠَّﻰ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺻَﻠَّﻴْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﺳَﻠَّﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻓَﺴَﺠَﺪْﺕُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﺷُﻜْﺮًﺍ "
Artinya: “Dari Abdurrahman bin Auf ia berkata, Rasulullah pergi menuju ke arah kebun yang disedekahkan olehnya. Kemudian beliau memasukinya, menghadap ke arah kiblat lalu tersungkur bersujud. Beliau begitu lama bersujud sampai aku mengira bahwa Allah telah mengambil ruhnya di dalam sujudnya. Aku mendekati beliau dan duduk. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan berkata, ‘Siapa ini?’ Aku menjawab, ‘Abdurrahman.’ Beliau bertanya, ‘Ada apa denganmu?’ Aku menjawab, ‘Ya Rasul, engkau bersujud begitu lama. Aku khawatir Allah telah mengambil nyawamu dalam sujud itu.’ Rasulullah bersabda, ‘Jibril mendatangiku dan memberi kabar gembira kepadaku. Ia berkata, bahwa Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang bershalawat kepadamu maka Aku bershalawat kepadanya, dan barangsiapa bersalam kepadamu maka Aku bersalam kepadanya’. Maka aku bersujud sebagai rasa syukur.”
Dari cerita hadits tersebut dapat kita pahami bahwa bagi Rasululah adanya Allah bershalawat dan bersalam kepada umatnya adalah sesuatu yang luar biasa yang tak terkira nilainya bagi siapa saja yang menerima shalawat dan salam dari Allah itu. Ini bisa dilihat dari bagaimana beliau mengekspresikan rasa syukurnya dengan bersujud yang cukup lama sampai-sampai sahabat Abdurrahman bin Auf merasa khawatir akan meninggalnya rasul tercinta itu.
Para ulama menuturkan bahwa ketika Allah bershalawat kepada hamba-Nya itu berarti Allah memberikan rahmat kasih sayang-Nya kepada sang hamba. Padahal dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa seorang yang bershalawat satu kali kepada Baginda Rasul maka ia akan dishalawati oleh Allah sebanyak sepuluh kali. Artinya ia mendapat sepuluh rahmat dari Allah. Bila berhitung demikian, lalu bagaimana bila seseorang memperbanyak bacaan shalawat? Bukankah ia tidak sekedar menerima sepuluh-dua puluh rahmat, tapi ia tercurahi oleh rahmat Allah?
Untuk bisa menggambarkan betapa berharganya rahmat Allah bagi seorang hamba dapat dibuat sebuah gambaran. Seseorang yang mendapat hadiah dari seorang walikota tentunya akan merasa senang dengan hadiah tersebut. Sementara orang yang menerima hadiah dari seorang gubernur apalagi presiden mestinya dia akan lebih senang lagi dengan hadiah yang ia terima. Bukan karena begitu mahal dan bagusnya hadiah yang diberikan, tapi karena jabatan orang yang memberikan. Semakin besar, tinggi dan mulia jabatan serta kedudukan orang yang memberi hadiah akan semakin membuat senang orang yang menerima hadiah.
Lalu bagaimana bila hadiah itu diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya? Bukankah Dia lah yang paling tinggi kedudukannya di alam semesta ini? Bila hadiah yang diberikan oleh seorang pejabat saja mampu membuat orang bersuka cita, maka tidakkah umat Baginda Muhammad bersuka ria dengan hadiah shalawat yang diberikan sang Pencipta?
Hadiah dari seorang pejabat bukan karena bagus dan mahalnya hadiah itu, tapi karena jabatan pemberinya. Sedangkan hadiah dari Allah bukan saja karena siapa pemberinya, namun juga karena nilai hadiahnya yang menghantarkan pada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akherat penerimanya.
Bagaimana dengan salamnya Allah bagi para pembaca shalawat?
Pernahkah Anda menerima kiriman salam dari kekasih tercinta? Ketika Anda jatuh hati pada lawan jenis yang dipuja, lalu darinya Anda mendapatkan salam, tidakkah hati Anda berbunga-bunga?
Lalu bagaimana bila yang mengirim salam kepada Anda adalah Dzat yang Pengasih lagi Penyayang dengan segala kasih dan sayang? Tidakkah menerima salam dari-Nya lebih berbunga-bunga dari menerima salam dari gadis atau jejaka pujaan?
Juga ketika Anda didoakan keselamatan oleh seorang kiai misalnya, bukankah Anda akan merasa bahagia mengingat yang mendoakan adalah seorang yang diyakini memiliki kedekatan dengan Dzat yang memberikan keselamatan? Bila demkian adanya, lalu bagaimana bila yang bersalam kepada Anda adalah Dzat Sang Penyelamat itu sendiri?
Barangkali alasan-alasan yang demikian itu yang menjadikan Rasulullah begitu bergembira hingga merasa perlu bersyukur dengan sujud yang lama. Beliau berbahagia bila umatnya diperlakukan dengan begitu mulia oleh Allah hanya dengan sebuah amalan yang secara kasat mata begitu ringan dilakukan.
Lalu bagaimana dengan diri sang umat? Adakah shalawat dan salam Allah itu dirasa sebagai anugerah yang luar biasa, yang karenanya kemudian mereka berlomba untuk sebanyak-banyak bershalawat kepada nabinya? Adakah setiap harinya mereka memperbanyak bacaan shalawat sebagai rasa hormat dan terima kasih pada sang nabi, dan juga demi keselamatan dan kebahagiaan mereka sendiri di dunia dan akherat kelak? Wallahu a’lam . (Yazid Muttaqin)
Sunday, April 1, 2018
Ummi Maktum Wanita Buta Berderajat Mulia
Apakah anda masih ingat kisah yang tertuang dalam surat ‘Abasa, tentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sengaja mengabaikan Ibnu Ummi Maktum, seorang tunanetra yang menemui beliau untuk meminta pengajaran Islam darinya? Sungguh, Allah segera menegur Rasul-Nya yang mulia itu dengan menurunkan surat ini, membuat baginda Rasulullah mengerti bahwa beliau merupakan utusan-Nya bagi seluruh kaum, baik yang sempurna maupun yang cacat.
Pertanyaannya, siapakah jati dirinya yang sebenarnya? Sahabat Rasulullah yang satu ini memang bukan orang yang terkenal. Ia bukan seorang petinggi suatu suku, bukan penyair hebat dan bukan pula pria yang gagah perkasa. Ia hanyalah seorang rakyat biasa di tengah-tengah hiruk pikuk kota Mekkah, yang berjuang untuk menghidupi dirinya seorang.
Mengenai namanya, masih ada perselisihan di antara kaum muslimin. Penduduk kota Madinah berpendapat bahwa namanya ialah Abdullah bin Ummi Maktum, tetapi orang Iraq berpendepat berbeda namanya adalah ‘Amru bin Ummi Maktum. Walau begitu, mereka semua sepakat bahwa nama ibunya adalah Atikah binti Abdullah bin Ma’ish. Ya, ia adalah putra dari bibi Siti Khadijah binti Khuwalid. kumpulpaytren.blogspot.com
Ibnu Ummi Maktum memang buta sejak lahir. Penduduk kota Mekkah kala itu mengenal pribadinya sebagai orang yang ulet mencari rezeki dan belajar mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan. Sebagai ganti penglihatannya, ia diberkahi daya ingat yang kuat, sehingga segala sesuatu yang ia dengar dari orang-orang akan ia ingat dalam waktu yang lama.
Suatu ketika, terdengar kabar bahwa semakin banyak penduduk kota Mekkah yang pergi menemui seorang mulia lagi terpecaya untuk belajar mengenai kabar langit secara sembunyi-sembunyi. Dialah Nabi Muhammad, sang Al-Amin, sang Rasulullah. Tertarik, Ibnu Ummi Maktum yang selalu mencintai keilmuan segera mengambil tongkatnya dan pergi menemui beliau.
Di luar dugaan, apa yang ia dengar langsung dari Rasulullah justru lebih dahsyat ketimbang apa yang dibicarakan orang-orang sebelumnya. Setelah puas dihinggapi rasa takjub lagi kagum, ia pun menggenggam lengan Rasulullah yang saat itu sedang berusaha keras menyampaikan risalah Islam kepada para petinggi Quraisy, seraya berkata, “Tolong ajarkan kepadaku apa yang telah diajarkan Tuhanmu kepadamu!” newstribunakurat.blogspot.com
Tersinggung karena disela di tengah-tengah ucapannya, Rasulullah tak menghiraukan Ibnu Ummi Maktum dan berpaling dengan mengerutkan wajahnya. Beliau kembali melayani tamu-tamu kehormatannya sampai pertemuan itu usai. Ketika Rasulullah hendak beranjak pergi, maka turunlah surat ‘Abasa ayat 1, “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling.”
Hati Rasulullah segera mencekik. Nuraninya berontak. Rasulullah segera memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang telah ia perbuat kepada seorang manusia yang membutuhkan pentujuknya untuk mengenal Allah. Maka, bergegaslah Rasulullah menemui Ibnu Ummi Maktum dan memberikan pedoman hidup yang lurus kepadanya; Al-Quran. Dan setelahnya, Rasulullah amat memuliakan sahabatnya yang buta ini dengan menyapanya, “Selamat datang, wahai orang yang dititipkan Tuhanku untuk diperlakukan baik!” Sungguh mulia Ibnu Ummi Maktum di mata beliau.
Dalam kehidupan pasca-Islam, Ibnu Ummi Maktum dikenal sebagai orang yang amat mencintai Allah serta Rasul-Nya. Dalam suatu riwayat, dikisahkan bahwa ia pernah tinggal di rumah seorang wanita Yahudi, bibi seorang Anshar. Wanita itu baik hati dan melayani makan-minumnya. Sayang, mulutnya tak pernah henti untuk menghina orang-orang yang dicintai oleh Ibnu Ummi Maktum. Tak sabar, Ibnu Ummi Maktum menegurnya beberapa kali, namun tak diindahkan oleh wanita Yahudi itu. Terpaksa, Ibnu Ummi Maktum memukulnya. Ternyata, pukulan itu mematikan dan perkara ini dilaporkan kepada baginda Rasul.
“Mengapa kau bertindak demikian?” tanya Rasulullah kepadanya.
“Wahai Rasulullah, sungguh ia seorang wanita yang berbudi baik kepadaku, namun mulutnya senantiasa mencela Allah dan Rasul-Nya, maka terpaksalah aku memukulnya untuk menghentikannya, namun kiranya ajal telah menjemputnya,” bela Ibnu Ummi Maktum.
“Sungguh, Allah menghalalkan darahnya.”
Tak sampai di situ saja, kecintaannya kepada Allah Subhanhu Wa Ta'ala ia buktikan dalam berbagai bentuk partisipasinya dalam peperangan. Suatu ketika, saat pasukan muslimin berangkat menuju Al-Qadisiyah, Ibnu Ummi Maktum bertemu dengan sang komandan perang, “Wahai kekasih Allah, sahabat Rasulullah, pahlawan perang, serahkan bendera perang itu padaku. Aku seorang buta, tak mungkin bisa lari. Nanti, tempatkanlah aku di antara kedua pasukan yang berperang.”
Menurut Qatadah, Anas bin Malik berkata, “Dalam perang Al-Qadisiyah, Abdullah bin Ummi Maktum memegang bendera perang hitam dan mengenakan baju besi.” Dan berdasarkan riwayat, Ibnu Ummi Maktum tidak meninggal di medan perang, melainkan di Madinah. Semoga Allah merahmatinya. anabustami.blogspot.com
Setelah menyaksikan kesungguhan perjuangan seorang tunanetra ini dalam berjihad di jalan Allah, adakah argumen yang dapat memenangkan kemalasan kita dalam memperjuangkan agama yang agung ini? Adakah alasan yang dapat menjauhkan kita dari kewajiban berjihad (berjuang dengan sungguh-sungguh)? Sungguh tak ada satu pun yang demikan. Maka, majulah dalam keteguhan, bersatulah dalam ketaatan, dan berjuanglah dalam mencari ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wallahu’alam.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Cerita
Kisah Keberanian Syekh Umar Mukhtar Di Depan Hakim Italia
sumber foto : google Di Depan Hakim Penjajah (Italia), Syekh Umar Mukhtar: Jari Telunjuk Yang Mengacung La IIlaha Ilallah Tak Menulis Kalima...
-
Kisah cinta yang sudah terpendam sejak lama, kisah cintanya sangat terjaga kerahasiaannya dalam kata, sikap dan ekspresi me...
-
Pada masa Rasulullah saw ada seorang yang pelit. Orangnya kaya. Ada sebuah pohon korma yang mayangnya menjulur ke tetangganya yang mis...
-
sumber foto : google Di Depan Hakim Penjajah (Italia), Syekh Umar Mukhtar: Jari Telunjuk Yang Mengacung La IIlaha Ilallah Tak Menulis Kalima...





